Pandangan tentang LGBT
Walaupun kelompok LGBT mengklaim keberadaannya karena faktor genetis dengan teori “Gay Gene” yang diusung oleh Dean Hamer pada tahun 1993. Akan tetapi, Dean sebagai seorang gay kemudian meruntuhkan sendiri hasil risetnya. Dean mengakui risetnya itu tak mendukung bahwa gen adalah faktor utama/yang menentukan yang melahirkan homoseksualitas. Perbuatan LGBT sendiri ditolak oleh semua agama bahkan dianggap sebagai perbuatan yang menjijikan, tindakan bejat, dan keji.
Relativisme Moral
Dekonstruksi ragam orientasi seksual oleh gerakan pro LGBT berakar dari dalil relativisme moral. Pandangan relativisme moral meyakini ‘there are no moral absolutes’, tidak ada aturan atau standar moralitas yang bersifat absolut. Relativisme moral menolak adanya kebenaran tunggal yang mengikat semua orang. Kebenaran bersifat majemuk, bergantung individu, budaya, dan konteks sosial tertentu. Relativisme moral berangkat dari pendapat Kaum Sofis (muncul pada zaman Yunani kuno) bahwa lembaga-lembaga budaya, termasuk moral, hanya berdasar atas adat kebiasaan, karena itu beragam dan mudah berubah.
Akibatnya, masing-masing kelompok menjadi kebal kritik atas praktik moral yang dilakukan. Siapapun tidak berhak mengklaim dirinya benar dan menyalahkan pihak lain yang melanggar batasan moral. Standar bermoral dan tidak bermoral, penentuan salah dan benar, bersifat relatif bervariasi pada masing-masing individu dan kesepakatan masyarakat. Standar moral hanya berlaku pada beberapa orang atau relatif terhadap kelompok tertentu.Semua orang harus ‘toleran’ pada perbedaan pandangan standar moralitas dalam budaya lain.
Karena itu, kelompok pro LGBT merasa bebas mendefinisikan batasan moral mereka sendiri. Relativisme moral memberikan peneguhan kuat atas usaha pembenaran perilaku LGBT. Kelompok pro LGBT menciptakan versi kebenaran yang kontra dengan standar moral masyarakat. Penyimpanganperilaku seksual yang pada awalnya dipandang tidak bermoral kemudian dibongkarmenjadi perilaku normal. Penyimpangan perilaku seksual dikonstruksihanya merupakan keberagaman orientasi seksual seperti halnya perbedaan suku, agama, ras, dan budayadalam masyarakat. Perilaku LGBT dianggap manusiawi dengan dalih tidak merugikan orang lain. Tidak ada yang salah dalam perilaku LGBT dengan pembenaran selamaperilaku seksual yang terjadi aman, nyaman dan bertanggung jawab.
Masyarakat dituntut memberikan toleransi pada perilaku menyimpang LGBT. Pelaku LGBT mencari pengakuan identitas di masyarakat dari sudut pandang seksualitas.Penentangan atas perilaku LGBT kemudian dianggap sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Kelompok LGBT menuntut hak untuk bisa ‘hidup layak’ sesuai orientasi seksual mereka, mengekspresikan penyimpangan orientasi seksual sebebas-bebasnya.
Pengaruh LGBT dikalangan masyarakat dan khususnya remaja:
– Pergaulan anak remaja jadi lebih tidak terkontrol
– Masyarakat lebih trauma apabila LGBT Ada di lingkungannya
– Bagi anak di bawah umur bisa meniru apabila tidak jaga
– Pergaulan anak remaja jadi lebih tidak terkontrol
– Masyarakat lebih trauma apabila LGBT Ada di lingkungannya
– Bagi anak di bawah umur bisa meniru apabila tidak jaga
Faktor Penyebab Terjadinya LGBT
Ada 4 Faktor utama penyebab Homosexual (Ilmu Kedokteran):
1. Faktor Biologic, berkaitan dengan kromosom pada pusat sex diotak.
2. Faktor Psikodinamic, Perkembangan Psikosexual pada masa kecil.
3. Faktor Sosiokultur, kebiasaan budaya setempat
4. Faktor Lingkungan, pengaruh pergaulan atau pengalaman pertama homosexual.
Ada 4 Faktor utama penyebab Homosexual (Ilmu Kedokteran):
1. Faktor Biologic, berkaitan dengan kromosom pada pusat sex diotak.
2. Faktor Psikodinamic, Perkembangan Psikosexual pada masa kecil.
3. Faktor Sosiokultur, kebiasaan budaya setempat
4. Faktor Lingkungan, pengaruh pergaulan atau pengalaman pertama homosexual.
Berdasarkan sebab, yang disebabkan faktor lingkungan Mungkin masih bisa dirubah walau sulit.
untuk faktor sosiokultur, dapat dirubah jika sibersangkutan keluar dari atau meninggalkan kultur itu, tapi umumnya sulit karena biasanya sudah melekat sejak kecil.
Biologic tidak dapat dirubah.
jadi, apakah orang akan hidup normal sebagai hetero atau homosex itu bukanlah pilihan, tapi karena ada faktor penyebabnya.
untuk faktor sosiokultur, dapat dirubah jika sibersangkutan keluar dari atau meninggalkan kultur itu, tapi umumnya sulit karena biasanya sudah melekat sejak kecil.
Biologic tidak dapat dirubah.
jadi, apakah orang akan hidup normal sebagai hetero atau homosex itu bukanlah pilihan, tapi karena ada faktor penyebabnya.
Pandangan Islam
Dalam Islam LGBT dikenal dengan dua istilah, yaitu Liwath (gay) dan Sihaaq (lesbian). Liwath (gay) adalah perbuatan yang dilakukan oleh laki-laki dengan cara memasukan dzakar (penis)nya kedalam dubur laki-laki lain. Liwath adalah suatu kata (penamaan) yang dinisbatkan kepada kaumnya Luth ‘Alaihis salam, karena kaum Nabi Luth ‘Alaihis salam adalah kaum yang pertama kali melakukan perbuatan ini (Hukmu al-liwath wa al-Sihaaq, hal. 1). Allah SWT menamakan perbuatan ini dengan perbuatan yang keji (fahisy) dan melampui batas (musrifun). Sebagaimana Allah terangkan dalam al Quran:
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ( ) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ ( )
Dalam Islam LGBT dikenal dengan dua istilah, yaitu Liwath (gay) dan Sihaaq (lesbian). Liwath (gay) adalah perbuatan yang dilakukan oleh laki-laki dengan cara memasukan dzakar (penis)nya kedalam dubur laki-laki lain. Liwath adalah suatu kata (penamaan) yang dinisbatkan kepada kaumnya Luth ‘Alaihis salam, karena kaum Nabi Luth ‘Alaihis salam adalah kaum yang pertama kali melakukan perbuatan ini (Hukmu al-liwath wa al-Sihaaq, hal. 1). Allah SWT menamakan perbuatan ini dengan perbuatan yang keji (fahisy) dan melampui batas (musrifun). Sebagaimana Allah terangkan dalam al Quran:
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ( ) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ ( )
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (TQS. Al ‘Araf: 80 – 81)
Saya menolak keras LGBT, Karena didalam agama hubungan sesama jenis jelas sangat dilarang, bahkan dosa besar. Manusia diciptakan berpasang-pasangan oleh Tuhan, sudah seharusnya kita sebagai manusia mengikuti aturan tersebut dan tidak bertindak melawan kodrat. Orang yang tergolong dalam LGBT merupakan mereka yang melakukan penyimpangan dan upaya perlawanan terhadap Tuhan.
LGBT merupakan penyakit dan digolongkan dalam gaya hidup yang tidak sehat. Pengaruh lingkungan yang buruk sangat menentukan perilaku tersebut. Oleh karena itu, diperlukan kemauan yang sungguh-sungguh dari pelaku LGBT agar dapat sembuh dan kembali normal.
Bencana alam semakin hari semakin banyak terjadi dan merupakan tanda-tanda berakhirnya zaman, seiring dengan semakin banyaknya orang yang menyatakan dirinya bagian dari LGBT, apalagi dengan maraknya pernikahan sesama jenis.
Bencana alam semakin hari semakin banyak terjadi dan merupakan tanda-tanda berakhirnya zaman, seiring dengan semakin banyaknya orang yang menyatakan dirinya bagian dari LGBT, apalagi dengan maraknya pernikahan sesama jenis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar